BANGKA, Kelekak
Sebanyak 45 titik lokasi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi di wilayah Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, bahkan potensinya bisa bertambah seiring terjadinya perubahan cuaca ekstrem.
Sebagai langkah antisipasi, kepolisian melakukan pencegahan dini melalui pemetaan potensi serta menggiatkan patroli.
Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha mengatakan, ancaman karhutla berpotensi terjadi setiap tahun sehingga upaya mitigasi disiapkan sejak awal.
“Salah satunya peningkatan patroli dilakukan sebagai upaya pencegahan agar titik api yang terdeteksi tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” kata Pradana di Mapolres Bangka Barat, Kamis (23/4/2026).
Pradana menegaskan, pemantauan terus diintensifkan di wilayah rawan karhutla sebagai langkah antisipasi dini.Selain itu, sumber air terdekat juga dipersiapkan agar saat terjadi pemadaman tidak terkendala pasokan.
Dari pemetaan sementara diketahui sebaran karhutla terbanyak berada di wilayah Mentok yang mencapai 19 titik.Kemudian Kecamatan Kelapa 9 titik, Tempilang sebanyak 7 titik, Parittiga 6 titik dan Jebus 4 titik. Sementara di wilayah Simpang Teritip tidak ditemukan titik api.
Menurut Kapolres, kondisi ini menjadi perhatian serius seiring potensi dampak fenomena El Nino yang dapat meningkatkan suhu dan memperparah kekeringan, sehingga risiko kebakaran semakin tinggi.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, Polres Bangka Barat bersama instansi terkait juga telah memetakan 113 titik sumber air di wilayah tersebut untuk mendukung percepatan penanganan kebakaran.
“Pemetaan sumber air ini menjadi bagian penting dalam mempercepat respons apabila terjadi karhutla,” ujar Pradana.
Polres Bangka Barat juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama menjaga lingkungan. Pencegahan menjadi kunci utama,” imbau dia.
Polres Bangka Barat memastikan akan terus memperkuat langkah preventif dan bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat guna menekan potensi karhutla di wilayah tersebut.
Dampak El Nino terhadap cuaca bermula dari pergeseran suhu air laut yang mengubah pola sirkulasi atmosfer secara global, kemudian memicu berbagai perubahan cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia terutama Pasifik Barat, termasuk Indonesia, Australia, dan sebagian Asia Tenggara.
El Nino menyebabkan curah hujan berkurang drastis. Hal ini sering memicu kemarau panjang, kegagalan panen, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.
Sebaliknya, wilayah pantai barat Amerika Selatan (Peru dan Ekuador) serta bagian selatan Amerika Serikat cenderung mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan, yang sering menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor.




